Kamis, 21 Februari 2013

Orang Farisi di Indonesia


Terlintas di benak...
Gereja telah merumuskan seindah mungkin tentang arti doa, untuk menyatakan bahwa ternyata menusia itu ternyata makhluk yang minta diperhatikan (walau sekedip saja mata Tuhan padanya). Jika dilihat lebih dalam lagi, doa merupakan ungkapan jiwa manusia yang merasa dirinya ada hubungan dengan Yang Kuasa (Tuhan). Doa mengakar karena pewartaan, dan pewartaan terjadi di tengah-tengah kebudayaan masyarakat di dalamnya.
Sekalipun itu masyarakat (pribadi) yang "belum" mengenal agama, dia terlebih dahulu tahu bagaimana caranya melakukan komunikasi dengan "yang maha tinggi" atau "yang maha kuasa". Namun sayang, oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya taat dan percaya pada Tuhan, cara orang yang belum mengenal agama ini dinilai "menyembah berhala" atau sebagian lagi dilihat sebagai bentuk Animisme.
Ingat, agama berkembang di tengah-tengah kebudayaan yang telah mengakar sejak manusia mengenal dirinya memiliki akal dan budi serta kehendak bebas. Budaya terlebih dahulu dari agama; maka SALAH TOTAL jika ada pendapat yang menilai masyarakat lokal beraliran animisme dan menyembah berhala. Di Indonesia banyak sekali hal ini terjadi, misalnya: Penyegelan tempat ibadah, pembakaran tempat-tempat praktek ibadah, serta men-cap orang yang tidak beragama sebagai animisme dan harus dimusnahkan. hmmmmmmmmmm...... saya jadi kawatir, orang Farisi zaman Yesus ternyata ada juga di Indonesia, dan siapa kali ini yang akan mereka salibkan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda disini...