Kamis, 21 Februari 2013

Mungkin...suatu hal yang baru dalam pewartaan di Keuskupan Agung Pontianak


Evangelisasi baru melalui karya musik daerah merupakan sebuah metode pewartaan baru di Keuskupan Agung Pontianak. Sebagai sesuatu yang baru tentunya metode ini sudah pastinya akan menuai berbagai tanggapan baik posisif maupun negatif dari berbagai pihak. Namun sebagai seorang calon katekis profesional, tanggapan berupa kritik dan saran sudah pastinya akan semakin memperkaya dan mengembangkan diri agar lebih mengoptimalkan sebuah karya dan pelayanan. Dalam tulisan ini, kaum muda sebagai fokus utama sekaligus sebagai subyek dalam keseluruhan proses. Dikatakan sebagai subyek karena kaum muda itulah yang diharapkan menjadi penggerak utama dalam mengembangkan iman umat melalui karya musik daerah yang sudah tidak asing lagi terdengar di telingan umat. Namun terlepas dari itu, penulis juga sangat mengharapkan dukungan berupa materil dan spirituil dari pimpinan dan dewan Gereja setempat. Oleh karena itu, pada bagian Penutup ini penulis akan memberikan saran atau usulan kepada pihak-pihak terkait untuk semakin memperjelas isi tulisan ini dan sebelumnya membuat kesimpulan keseluruhan.

Setiap daerah memang kaya akan karya seninya. Secara khusus tulisan ini telah membahas mengenai karya seni (musik) dan budaya yang ada di Kalimantan Barat. Peran serta setiap komunitas seni sangat mendukung berkembangnya bakat dan minat tiap pribadi yang ada di Keuskupan Agung Pontianak, Kalimantan Barat. Kaum muda di Keuskupan Agung Pontianak adalah fokus dalam tulisan ini. Fakta-kakta yang membuktikan peran serta mereka dalam melestarikan budaya setempat terlihat dengan diselenggarakannya Gawai Dayak di Yogyakarta setiap satu tahun sekali, menjadi anggota komunitas sanggar seni, dan dalam seminar-seminar budaya. Terlebih dalam bidang seni musik. Pihak Gereja pun memberi dukungan (walau masih bersifat personal/ individu) dengan menyediakan diri sebagai motivator dan penggerak kaum muda yang berbakat dalam bidang musik. Namun usaha lokakarya Pusat Musik Liturgi Yogyakarta dalam mengangkat musik daerah dalam Gereja juga memiliki peran yang amat penting dalam sebuah musik inkulturasi. Penulis melihat peluang yang sangat bagus untuk sebuah evangelisasi baru melalui karya musik. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, penulis berharap iman umat di Keuskupan Agung Pontianak semakin berkembang dengan pewartaan melalui musik yang tidak asing di telinga mereka.

Ciri pewartaan yang menjadi harapan di sini ialah umat semakin berani menatap masa depannya tanpa keraguan akan sebuah kegagalan karena yakin dan percaya bahwa Allah (Jubata) beserta mereka. Langkah pertama yang akan penulis ambil untuk memperkenalkan pewartaan dengan cara seperti dimulai di lingkungan atau kring-kring dalam sebuah paroki, tentunya dengan berkoordinasi dengan katekis-katekis yang ada.

Sebagai sebuah cara baru dalam pewartaan, tentunya ini akan membingungkan umat. Namun penulis yakin, tidak ada yang tidak bisa dilakukan asalkan disertai dengan usaha dan kerja keras serta doa mohon penyelenggaran Allah karena tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Evangelisasi baru melalui karya musik daerah ini sudah pasti tidak lepas dari unsur sarana sekaligus sumber utamanya yaitu musik daerah. Penulis telah memberikan contoh musik yang dapat digunakan sebagai sarana dan sumber dalam pewartaan.

Dilihat peranan musik yang begitu besar dalam kehidupan manusia, apalagi hingga menjadi sebuah sarana sekaligus sumber bahan untuk menuju metanoia, jelaslah sudah bahwa musik sangat relevan dan mampu menjadi media yang sempurna dalam mengembangkan tingkat religius seseorang atau komunitas tertentu. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika pengalaman dalam hidup diangkat dalam syair lagu sehingga menjadi sebuah kesaksian hidup yang mempu menguatkan serta memberi motivasi pada setiap orang. Kesaksian hidup sangat berarti dan memiliki nilai seni ketika diungkapkan melalui sebuah lagu. Kesaksian hidup yang memiliki nilai seni merupakan wujud daya kreativitas manusia yang tidak hanya memandang dari sisi luar/ harafiahnya saja namun mencoba menggali sejauh mana sebuah kesaksian hidup dapat  terungkapkan dengan memperhatikan nilai-nilai seni  yang ada.


Saran/ Usulan

1.      Bagi Para Katekis

a.       Mampu mengembangkan metode berkatekese di tengah umat, misalnya dengan  mengangkat musik asli daerah sebagai sarana dan sumber berkatekese seperti yang dimaksud dalam tulisan ini.

b.      Mengembangkan inkulturasi dalam Gereja. Mengingat inkulturasi merupakan hal penting dalam rangka menyentuh hati umat dengan budaya mereka sendiri terutama yang berkaitan dengan bahasa dan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang telah terpola. Dan dalam hal ini, model pewartaan katekis, “masuk melalui pintu mereka dan keluar melalui pintu kita”.

c.       Pewartaan iman pada hakikatnya adalah kesaksian iman, maka si pewarta perlu merefleksikan imannya sambil menaruh perhatian bagaimana peserta komunikasi iman menghayati pokok iman yang mau ditawarkan sampai akhirnya bagaimana kedua pihak berusaha mengarah dan mencapai apa yang seharusnya. Di sini juga proses internalisasi patut mendapat perhatian secukupnya (bdk. Komkat KWI, 1997: 20).

2.      Bagi Sanggar-sanggar Seni di Keuskupan Agung Pontianak

a.       Memberikan peluang secara lebih luas lagi kepada kaum muda untuk mengembangkan bakat dalam bidang seni, misalnya dengan mengadakan festival atau lomba seni dan budaya.

b.      Membuat dokumentasi kegiatan baik secara tertulis, video maupun audio secara lengkap. Hal ini dianggap penting karena dapat digunakan sebagai acuan dalam refleksi dan evaluasi untuk kegiatan ke depan. Alasan lain, agar orang lain yang membutuhkan dokumentasi kegiatan (seperti penulis) untuk keperluan tertentu dapat segera diberikan.

3.      Bagi Kaum Muda di Keuskupan Agung Pontianak

a.       Memiliki rasa tanggungjawab terhadap kesenian (misalnya musik) daerah sehingga bukan hanya lagu pop yang diminati dan diperdalam namun lagu dan musik yang daerah asli juga seharusnya yang utama untuk dipelajari sekaligus dinikmati; misalnya dapat diperdalam/ dipelajari di sanggar seni.

b.      Bagi kaum muda yang berbakat di bidang seni, dapat membuat lagu tentang kesaksian pengalaman beserta pergulatan hidupnya dalam hubungan dengan Yang Ilahi agar pengalaman yang telah digubah ini memberi cerminan bagi orang lain.

c.       Kaum muda adalah “agent of change”. Kaum muda harus berani menyadari hal ini secara positif. Sebagai pembaharu mereka harus mampu membuat pembaharuan dan perkembangan terhadap dirinya sendiri terlebih dahulu kemudian pembaharuan demi perubahan sosial dalam masyarakat (bdk. Tangdilintin, 2008: 29).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda disini...